Senin, 07 Februari 2011

Street Smart vs Pintar/Sekolahan


Orang pintar sangat banyak. Bertebaran di mana-mana, apalagi sudah bertitel S1, S2, sampai S3. Tapi terkait dengan entrepreneurship, orang-orang sekolahan tersebut nyaris tidak ada yang berkoar atau menunjukkan tajinya. Coba saja tengok orang terkaya di dunia! Adakah yang memulainya dengan bekal gelar? Tidak ada bukan. Kalaupun ada, hanya segelintir saja. Sebaliknya, mereka justru sukses karena mangkir dari sekolahan. Lihat pula orang terkaya di Indonesia? Bisa menyebutkan salah satunya yang bergelar tinggi? Malah banyak yang hanya lulusan SMP atau SMA. Yang hanya lulusan SD juga tidak sedikit.
Jadi untuk urusan wirausaha, siapa yang lebih hebat? Orang sekolahan atau orang jalanan? Lalu kenapa mereka yang memulai di jalanan bisa lebih hebat dibanding mereka yang mengawalinya dari sekolahan? Calon pengusaha pemula memang menghadapi begitu banyak dilema ketika hendak memulai usaha. Kalau ia batalkan keinginannya untuk menjadi pengusaha karena takut resiko, takut pada berbagai kemungkinan buruk, tentu saja ia tidak akan pernah menhadi pengusaha atau tidak akan pernah paham seluk beluk memulai usaha. Tetapi, bila ia terus nekad untuk menjadi pengusaha, tidak berarti ini akan ada jaminan berhasil.
"Tembakan meleset" biasa dalam usaha. Tapi gagal dalam arti kehabisan peluru, kehilangan sumber penghasilan, menanggung utang atau kehilangan pekerjaan, pasti berbeda efeknya. Jadi, bagaimana berkelit dari dilema yang sulit seperti ini? Ada sekian jawaban, ada sekian alternatif, dan ada sekian opsi.
Jawaban yang paling pas menghadapi berbagai kendala, dijabarkan dengan pas oleh Om Bob dan sudah dijalankannya sejak memulai usaha. Yaitu cerdas di jalanan tadi atau street smart. Sebuah kondisi kecerdasan yang berkebalikan dengan pintar sekolahan. ""Karena orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan belajar bisa. Tentu saja, orang yang bisa akan berada beberapa langkah di depan orang yang hanya tahu."
Lebih parah lagi, karena orang sekolahan biasanya hanya tahu dan belum tentu mengerti, sehingga dalam melangkah lebih banyak ragu-ragunya. Takut begini takut begitu, karena terlalu banyak rambu, tidak boleh begini tidak boleh begitu, harus begini harus begitu. Street smart termasuk intangible yang luar biasa peranannya. Pintar jalanan hanya mengajarkan, lakukan saja! Tidak ada teori atau pikiran negatif. Orang yang pintar di jalanan berani melawan ketakutan yang biasanya membisikkan teror: "bagaimana nanti kalau gagal," "jangan-jangan nanti rugi..." dan lain-lain.
Bob Sadino memulai segalanya dari jalanan, bukan dari sekolahan. Dia memulai dengan berjualan telur, lalu daging ayam kemudian sayur mayur dan buah-buahan. Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktik, praktik dan praktik.



Sumber: Mawardi, Dodi. 2008. Belajar Goblok Dari Bob Sadino. Kintamani Publishing.

Jumat, 12 November 2010

IBU


Setiap manusia terlahir dari bersatunya sel telur dan sperma. Mereka bersatu di dalam rahim seorang ibu. Selama tepat 9 bulan janin berada di dalam rahim, Ia lalu lahir di bumi dengan keadaan tidak berdaya. Ia adalah makhluk yang suci dan tidak berdosa. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. yang lemah. Karena sifat dasar manusia adalah lemah. Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Begitu pula dengan seorang bayi yang baru dilahirkan. Ia butuh bantuan untuk dibersihkan dari darah saat Ia dilahirkan, perlu dimandikan supaya bersih, diberi pakaian supaya tidak kedinginan, dll. sampai Ia tumbuh dewasa dan dapat melakukan segala hal.
Semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah peran seorang Ibu. Ibu yang mengandung kita selama 9 bulan, harus membawanya kemana pun Dia pergi, harus menerima pahitnya mengidam, bahkan ada seorang ibu yang hampir selama 9 bulan lamanya tidak bisa melakukan aktifitas apa pun dan terbaring diatas tempat tidur karena mengandung seorang bayi dalam rahimnya.
Begitu besar pengorbanan seorang ibu demi seorang anak. Rela menerima segalanya demi seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Jadi benarlah jika surga ada ditelapak kaki Ibu.
Pernah terlintas dalam pikiran untuk jadi anak yang durhaka?
Pasti jawabannya "Tidak". Tapi coba Anda pikirkan tentang apa yang telah Anda lakukan kepada Ibu sejak Anda sudah bisa berpikir(Akhil Baliq) sampai Anda yang sekarang?
Apakah semua yang telah Anda lakukan kepada Ibu termasuk tindakan anak yang durhaka atau tidak?
Apakah tindakan Anda sudah dapat membalas semua jasa Ibu?
Pernah terpikir bagaimana reaksimu ketika kamu sampai dirumah, sosok ibu yang selalu menyayangi kita tanpa pamrih sudah tiada meninggalkan kita..??
Hanya Anda yang bisa menjawabnya.
Mulai saat ini, marilah kita lebih menyayangi Ibu kita, patuhi perintahnya yang positif untuk kita, BANGGAKAN kedua orang tua kita supaya mereka tidak menyesal melahirkan kita.


"♪.Adi Pangestu.♪"

PHP(Peace, Happiness, Prosperity)













Manusia hanyalah makhluk yang lemah. Tapi dari kelemahan itu kita dapat mengantisipasinya dengan mempelajari kelemahan itu sebagai suatu kelebihan yang belum ditemukan.
Berawal dari kelebihan yang belum ditemukan itu, sebuah pencapaian tertinggi akan dapat kita raih dalam genggaman tangan manusia yang lemah ini.
Dalam sebuah buku biografi yang cukup terkenal berjudul Pegawai Toko Sepeda Yang Menjadi Raja Elektrik Jepang, seorang tokohnya yang bernama Matsushita Konosuke telah membuktikannya. Saya masih ingat kalau tidak salah Ia selalu berkata kepada orang lain bahwa, "Saya hanyalah seseorang yang tidak tamat Sekolah Dasar. Walaupun saya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi tetapi saya memiliki keinginan kuat untuk terus berusaha. Saya selalu belajar dimana pun saya berada dan dalam setiap keadaan."
Konosuke merupakan seseorang yang sangat sukses walaupun Ia hanyalah seseorang yang tidak tamat Sekolah Dasar, yaitu menjadi Raja Elektrik Jepang. Ia pernah menulis sebuah majalah yang berjudul PHP(Peace, Happiness, Prosperity). Di bawah ini adalah contoh-contoh tulisan Konosuke yang dimuat dalam majalah PHP.

1. "Mengapa"
Hati seorang anak kecil itu polos. Karena itu, saat ada sesuatu yang tak dimengertinya, ia akan bertana, "Mengapa? Mengapa?"
Anak kecil itu selalu bersungguh-sungguh dalam segala hal. Karena itu ia memikirkan dengan sungguh-sungguh jawaban yang diterimanya dari pertanyaan yang diajukannya. Dipikirannya terus sampai ia merasa tidak puas dengan jawaban yang diterimanya, ia akan terus bertanya, "Mengapa? Mengapa?" Anak-anak tumbuh dari pengulangan hal tersebut. Mereka akan mendapat jawaban dari pertanyaan "Mengapa?" yang diajukannya, kemudian memikirkannya sendiri, setelah itu masih bertanya lagi, "Mengapa?", semua itu terulang hari demi hari dan mereka pun tumbuh menjadi dewasa.
Kemakmuran berawal dari sebuah pertanyaan "Mengapa?".

2. "Binatang dalam kandang"
Binatang yang ada di kebun binatang, tidak pernah merasa kekurangan makanan. mereka tidak perlu cemas akan ancaman dari binatang lain. Mereka hanya tidur dan bermalas-malasan di dalam kandangnya. Tetapi apakah mereka merasa senang dengan keadaan itu?
Aku pernah merindukan suasana hidup di mana kita tidak perlu susah payah, tidak perlu berusaha. Tetapi, akankah semangat hidup yang kuat akan muncul dari suasana seperti itu?
Hidup manusia baru bisa dikatakan sempurna setelah ia menghadapi berbagai permasalahan dan dapat mengatasi permasalahn itu dalam kehidupannya.

3. "Pengetahuan seseorang"
Pengetahuan seseorang untuk membantunya mengambil keputusan itu ada batasnya. Karena itu, pada saat menghadapi banyak masalah ia bisa saja tersesat, atau terhambat.
Ada kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Sudah seharusnya kita bertanya apabila ada yang tidak kita ketahui. Bahkan, sebaiknya kita mencoba mendengar pendapat orang lain tentang sesuatu hal walaupun kita sudah tahu tentang masalah itu. Tidak peduli orang lain itu siapa, yang paling penting adalah kita mendengarkan pendapat orang itu dengan tulus, karena hal itu akan menambah pengetahuan kita dan menjadikan kita lebih bijaksana. Dengan kata lain, pengetahuan dari satu orang, bisa menjadi pengetahuan dua orang. Dari dua orang kemudian bertambah menjadi tiga orang, dan dari tiga orang menjadi empat orang dan seterusnya. Semakin banyak berkembang semakin baik.
Sebaiknya kita tidak berjalan hanya dengan mengandalkan pengetahuan, pendapat dan kebijaksanaan kita sendiri.
Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa masalah dan tanpa rasa bimbang. Untuk orang-orang yang sedang bimbang dan sedang menghadapi masalah, perkataan Konosuke seperti yang telah dicontohkan di atas itu sangatlah menghibur.
JADILAH PRIBADI YANG SEMPURNA DENGAN MENYEMPURNAKAN ORANG LAIN..
HADAPI SETIAP MASALAH DENGAN LANGKAH BIJAK DAN TEPAT..
JADIKAN SETIAP KATA-KATA GURU UNTUKMU..

Sumber: Okamoto, Bunrya, dan Takada, Isao. 2003. Pegawai Toko Sepeda Jadi Raja Elektrik Jepang. Jakarta: PT.Grasindo