
Orang pintar sangat banyak. Bertebaran di mana-mana, apalagi sudah bertitel S1, S2, sampai S3. Tapi terkait dengan entrepreneurship, orang-orang sekolahan tersebut nyaris tidak ada yang berkoar atau menunjukkan tajinya. Coba saja tengok orang terkaya di dunia! Adakah yang memulainya dengan bekal gelar? Tidak ada bukan. Kalaupun ada, hanya segelintir saja. Sebaliknya, mereka justru sukses karena mangkir dari sekolahan. Lihat pula orang terkaya di Indonesia? Bisa menyebutkan salah satunya yang bergelar tinggi? Malah banyak yang hanya lulusan SMP atau SMA. Yang hanya lulusan SD juga tidak sedikit.
Jadi untuk urusan wirausaha, siapa yang lebih hebat? Orang sekolahan atau orang jalanan? Lalu kenapa mereka yang memulai di jalanan bisa lebih hebat dibanding mereka yang mengawalinya dari sekolahan? Calon pengusaha pemula memang menghadapi begitu banyak dilema ketika hendak memulai usaha. Kalau ia batalkan keinginannya untuk menjadi pengusaha karena takut resiko, takut pada berbagai kemungkinan buruk, tentu saja ia tidak akan pernah menhadi pengusaha atau tidak akan pernah paham seluk beluk memulai usaha. Tetapi, bila ia terus nekad untuk menjadi pengusaha, tidak berarti ini akan ada jaminan berhasil.
"Tembakan meleset" biasa dalam usaha. Tapi gagal dalam arti kehabisan peluru, kehilangan sumber penghasilan, menanggung utang atau kehilangan pekerjaan, pasti berbeda efeknya. Jadi, bagaimana berkelit dari dilema yang sulit seperti ini? Ada sekian jawaban, ada sekian alternatif, dan ada sekian opsi.
Jawaban yang paling pas menghadapi berbagai kendala, dijabarkan dengan pas oleh Om Bob dan sudah dijalankannya sejak memulai usaha. Yaitu cerdas di jalanan tadi atau street smart. Sebuah kondisi kecerdasan yang berkebalikan dengan pintar sekolahan. ""Karena orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan belajar bisa. Tentu saja, orang yang bisa akan berada beberapa langkah di depan orang yang hanya tahu."
Lebih parah lagi, karena orang sekolahan biasanya hanya tahu dan belum tentu mengerti, sehingga dalam melangkah lebih banyak ragu-ragunya. Takut begini takut begitu, karena terlalu banyak rambu, tidak boleh begini tidak boleh begitu, harus begini harus begitu. Street smart termasuk intangible yang luar biasa peranannya. Pintar jalanan hanya mengajarkan, lakukan saja! Tidak ada teori atau pikiran negatif. Orang yang pintar di jalanan berani melawan ketakutan yang biasanya membisikkan teror: "bagaimana nanti kalau gagal," "jangan-jangan nanti rugi..." dan lain-lain.
Bob Sadino memulai segalanya dari jalanan, bukan dari sekolahan. Dia memulai dengan berjualan telur, lalu daging ayam kemudian sayur mayur dan buah-buahan. Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktik, praktik dan praktik.
Sumber: Mawardi, Dodi. 2008. Belajar Goblok Dari Bob Sadino. Kintamani Publishing.

